
29 Penumpang Dan ABK KM Feronia Selamat Di Pulau Tatawa
29 Penumpang Dan ABK kapal wisata KM Feronia tenggelam di perairan Pulau Tatawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 13 Oktober 2026. Insiden tersebut memicu operasi pencarian dan pertolongan oleh tim SAR gabungan di kawasan Labuan Bajo. Dari total 30 orang di kapal, sebanyak 29 orang berhasil di evakuasi dalam keadaan selamat. Namun, satu penumpang masih di nyatakan hilang dan pencarian terus di lakukan.
KM Feronia merupakan kapal wisata tradisional jenis pinisi dengan tonase 51 gross tonnage (GT). Kapal tersebut mengangkut 25 penumpang dan lima anak buah kapal (ABK). Berdasarkan informasi awal, kapal bertolak dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo menuju Dermaga Pulau Rinca sekitar pukul 08.00 WITA. Perjalanan itu kemudian berakhir dengan kecelakaan ketika kapal melintasi perairan sekitar Pulau Tatawa.
Sekitar pukul 14.30 WITA, kapal di laporkan melintasi pusaran arus laut. Akibatnya, badan kapal mulai miring sebelum akhirnya terbalik dan tenggelam. Informasi kejadian kemudian di terima Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Maumere melalui Pos SAR Manggarai Barat. Selanjutnya, petugas segera mengerahkan personel dan sarana laut menuju lokasi kejadian.
29 Penumpang Dan ABK peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran wisata di kawasan Labuan Bajo. Wilayah tersebut memiliki daya tarik wisata bahari dengan jalur perjalanan antarpulau yang ramai. Oleh karena itu, kondisi cuaca, arus laut, dan kesiapan kapal perlu di perhatikan sebelum keberangkatan. Sementara itu, proses penanganan korban menjadi prioritas utama setelah kecelakaan terjadi.
Tim SAR Gabungan Evakuasi 29 Penumpang Dan ABK Menggunakan Sejumlah Armada
Tim SAR Gabungan Evakuasi 29 Penumpang Dan ABK Menggunakan Sejumlah Armada setelah menerima laporan, tim SAR gabungan segera bergerak menuju lokasi tenggelamnya KM Feronia. Operasi ini melibatkan Pos SAR Manggarai Barat, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo, serta Pangkalan TNI Angkatan Laut setempat. Selain itu, unsur kepolisian dan potensi SAR lainnya turut membantu proses penyelamatan. Koordinasi lintas instansi di perlukan agar evakuasi berlangsung cepat dan terarah.
Petugas mengerahkan sejumlah armada, termasuk Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Pos SAR Manggarai Barat. Selain itu, Sea Rider KSOP, RIB Polairud, dan beberapa kapal cepat ikut mendukung operasi. Kapal serta speedboat yang berada di sekitar lokasi juga membantu mengangkut para korban. Dengan dukungan tersebut, evakuasi di lakukan secara bertahap menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo.
Pada tahap awal, sebanyak 14 orang di evakuasi menggunakan speedboat Red Whale 2. Selanjutnya, empat orang lainnya di bawa menggunakan speedboat Mac Cruise. Tim kemudian mengevakuasi tujuh orang menggunakan RIB Pos SAR Manggarai Barat. Sementara itu, empat orang lainnya di angkut menggunakan Sea Rider KSOP Labuan Bajo. Seluruh proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyelamatkan orang-orang yang berada di kapal.
Hingga laporan awal operasi, sebanyak 29 orang telah berhasil di evakuasi dalam keadaan selamat. Namun, satu penumpang perempuan masih belum di temukan. Kondisi arus laut dan jarak pandang yang terbatas menjadi tantangan bagi petugas di lapangan. Oleh sebab itu, tim SAR menyiapkan kelanjutan pencarian untuk menemukan penumpang tersebut.
Keberhasilan evakuasi puluhan orang menunjukkan pentingnya respons cepat dalam kecelakaan laut. Di sisi lain, pencarian korban yang belum di temukan tetap membutuhkan ketelitian dan koordinasi. Petugas harus memperhitungkan arus, kondisi perairan, serta keselamatan personel selama operasi. Dengan demikian, upaya penyelamatan dapat di lanjutkan secara terukur tanpa mengabaikan risiko di lokasi kejadian.
Pencarian Penumpang Yang Hilang Dan Evaluasi Keselamatan Pelayaran
Pencarian Penumpang Yang Hilang Dan Evaluasi Keselamatan Pelayaran setelah mengevakuasi 29 orang, tim SAR gabungan melanjutkan pencarian terhadap satu penumpang yang belum di temukan. Berdasarkan laporan awal, korban tersebut merupakan seorang perempuan berusia 23 tahun. Hingga berakhirnya operasi hari pertama, keberadaannya belum berhasil diketahui. Karena itu, pencarian di rencanakan berlanjut pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menyampaikan bahwa kondisi perairan menjadi salah satu kendala utama. Jarak pandang terbatas dan arus laut menyulitkan proses pencarian di sekitar lokasi tenggelamnya kapal. Namun, tim tetap melakukan upaya sesuai rencana operasi SAR. Selanjutnya, petugas akan menyesuaikan strategi berdasarkan perkembangan kondisi lapangan dan hasil pencarian sebelumnya.
Di sisi lain, kecelakaan tersebut menjadi pengingat pentingnya penerapan standar keselamatan pelayaran wisata. Operator kapal perlu memastikan kondisi kapal, peralatan keselamatan, dan kesiapan awak sebelum berangkat. Selain itu, informasi mengenai cuaca serta arus laut harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan rute. Dengan persiapan tersebut, risiko kecelakaan dapat di tekan meskipun kondisi laut bisa berubah sewaktu-waktu.
Penumpang juga perlu mengikuti arahan awak kapal selama perjalanan. Penggunaan jaket pelampung dan pemahaman mengenai prosedur darurat dapat membantu meningkatkan peluang keselamatan. Sementara itu, operator perlu memastikan perlengkapan keselamatan tersedia sesuai kebutuhan penumpang. Oleh karena itu, pemeriksaan berkala dan pengawasan dari pihak berwenang menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan wisata bahari.
Pada akhirnya, operasi pencarian KM Feronia menegaskan pentingnya koordinasi antara Basarnas, otoritas pelabuhan, aparat keamanan, dan masyarakat maritim. Selain menyelamatkan korban, evaluasi kecelakaan di perlukan untuk mengidentifikasi faktor penyebab secara menyeluruh. Namun, kesimpulan mengenai penyebab tenggelamnya kapal harus menunggu pemeriksaan pihak berwenang. Dengan demikian, hasil evaluasi dapat menjadi dasar perbaikan prosedur keselamatan pelayaran di Labuan Bajo dan sekitarnya 29 Penumpang Dan ABK.